Nilai Ekonomi Kulit Batang Pohon Faloak (Sterculia quadrifida R.Br.)

  • Siswadi Siswadi
  • Eko Pujiono
  • Heny Rianawati
  • Grace Serepina Saragih
Keywords: Faloak, simplisia, nilai ekonomi

Abstract

Faloak (Sterculia quadrifida, R.Br.) adalah tanaman dari keluarga Sterculiaceae yang merupakan spesies asli dari Nusa Tenggara Timur. Kulit batang tumbuhan ini telah banyak digunakan secara tradisional untuk pengobatan hepatitis, reumatik, anemia, tipus dan malaria. Kulit batang faloak mengandung senyawa fenolik, flavonoid, terpenoid dan alkaloid yang merupakan hasil metabolit sekunder. Pemanenan kulit pohon faloak yang dilakukan masyarakat sering kali melebihi kemampuan regenerasi kulit pohon sehingga berakibat kematian pohon. Berkurangnya jumlah pohon faloak akan semakin menyulitkan masyarakat mencari kulit faloak dan menghilangkan manfaat ekonomi pohon tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkuantifikasi nilai ekonomi pohon faloak. Metode yang digunakan adalah dengan cara pemanenan kulit batang faloak kelas diameter (≤15 cm, >15-30 cm, >30 cm). Analisis nilai ekonomi pohon faloak dihitung dengan cara membandingkan produksi kulit batang yang dihasilkan dari pemanenan kulit pertama dan survei harga kulit batang faloak di pasar. Di pasaran faloak dijual dengan harga Rp. 1.600/potong. Pedagang juga menjual kulit faloak yang dicampur dengan  simplisia lain dengan harga Rp.5.000/kaleng. Nilai ekonomi kulit pohon faloak yang dijual murni memiliki nilai yang lebih tinggi yakni Rp.168.025 per pohon, sedangkan jika penjualan kulit yang dicampur dengan simplisia lain adalah Rp.158.858 per pohon.

References

Agoes, G. 2007. Teknologi Bahan Alam. Penerbit ITB. Bandung.
Artuso, A., 1997. Drugs of natural origin: economic and policy aspect of discovery, development and marketing. Haworth Press. New York.
Aylwards, B.A., 1993. The Economic Value of Pharmaceuticals prospecting and its role in biodiversity conservation. LECC Paper DP 93-03
Deptan. 2007. Prospek Dan Arah Pengembangan Agribisnis Tanaman Obar Bagian Dua. Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. Bogor.
Farnsworth, N.R dan Soejarto, D. D., 1985. Potential consequences of plant extintion in the United States on the current and future avaibility of prospecting drugs. Economic Botany Vol 39 p. 231-240
Halidah, Saprudin dan Abd. Kadir, 2007. Kajian potensi dan nilai ekonomi tanaman obat dan tanaman hias di Kabupaten Gorontalo. Info Sosial Ekonomi Vol 7 No.2 Halaman 91-99.
Hamilton, A.C. 2004. Medicinal Plants, conservation and livehoods. Biodiversity and Conservation.

Kumar, P., 2004. Valuation of medical plants for pharmaceutical uses. Current Science Vol. 86 No.7.
Mendelsohn, R. dan Ballick, M.J., 1997. Notes on Economic Plants. Economic Botany Vol 51.
Norman R. Farnsworth, Olayiwola Akerele, Audrey S. Bingel, Djaja D. Soejarto, and Zhengang Guo, 1985. Medicinal plants in therapy. Bull World Health Organ. National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine 8600 Rockville Pike, Bethesda MD, 20894 USA.
Pearce, D. W., dan Puroshuthaman, S.,1992. The economic value of plants based pharmaceuticals. In Intelectual Property Right and Biodiversity Conservation (ed. Swanson, T.) Cambridge University Press, Cambridge
Principe, P., 1991. Valuing Biodiversity of Medical Plants. In The Conservation of Medical Plants (eds Akerele, O., et al.). Cambridge University Press, Cambridge.
Rusli, S. dan D. Darmawan, 1998. Pengaruh Cara Pengeringan dan Type Pengeringan Terhadap Mutu Jahe Kering. Buletin Balittro 3(2).
Zuhud, E. A.M. 2009. Potensi Hutan Tropika Indonesia sebagai Penyangga Bahan Obat Alam untuk Kesehatan Bangsa. Jurnal Bahan Alam Indonesia. Vol. 6, No.6, hal : 227-232, Januari 2009. Perhimpunan Peneliti Bahan Obat Alam. Jakarta.
Published
2016-04-26
How to Cite
Siswadi, S., Pujiono, E., Rianawati, H., & Saragih, G. S. (2016). Nilai Ekonomi Kulit Batang Pohon Faloak (Sterculia quadrifida R.Br.). Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, 3(2), 379-388. https://doi.org/10.25026/mpc.v3i2.137