Kajian Karakteristik dan Pola Pengobatan Pasien Infeksi Menular Seksual di RSUD Aw Sjahranie Samarinda

  • Yuniarti Pudji Rahayu
  • Adam M. Ramadhan Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Kefarmasian "Farmaka Tropis", Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
  • Laode Rijai Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Kefarmasian "Farmaka Tropis", Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia http://orcid.org/0000-0002-1087-1112
Keywords: Penyakit Menular Seksual, Karakteristik, Pola Pengobatan

Abstract

Penyakit menular seksual adalah bagian dari infeksi saluran reproduksi yang disebabkan oleh bakteri, jamur, dan virus yang masuk dan berkembang biak di dalam tubuh yang ditularkan melalui hubungan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien, jenis-jenis penyakit infeksi menular seksual, dan pengobatan infeksi menular seksual. Metode ini dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan hasil observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien infeksi menular terbanyak berjenis kelamin laki-laki yakni sebanyak 55 pasien (50,93 %), sedangkan 53 pasien (49,07 %) berjenis kelamin perempuan. Karakteristik pasien laki-laki penderita infeksi menular seksual mayoritas berusia pada masa dewasa awal, 26-35 (21,29 %), tingkat pendidikan SLTA (41,67%), pekerjaan sebagai karyawan swasta (34,26%), dan status belum menikah (27,78%). Sedangkan karakteristik pada pasien perempuan penderita PMS mayoritas berusia pada masa remaja akhir, 17-25 (22,22%), tingkat pendidikan SLTA (21,30%), pekerjaan sebagai IRT (25,93%), dan status menikah (36,11%). Jenis penyakit infeksi menular seksual dengan kasus terbanyak pada pasien laki-laki ialah Gonorrhea yakni sebanyak 24,07 %, sedangkan pada pasien perempuan ialah Kondiloma Akuminata yakni sebanyak 24,07%. Obat yang paling sering digunakan pada pengobatan Gonorrhea ialah SefiksimĀ  (38,71%), pada pengobatan Kondiloma Akuminata ialah Ciprofloxacin (28,57%), pada pengobatan Herpes Genital ialah Asiklovir (77,80%), pada pengobatan Candidiasis ialah Ketokonazol (100%), pada pengobatan Sifilis ialah Doxicyclin (66,67%), pada pengobatan Ulkus Genital ialah Ciprofloxacin (50%), dan pada pengobatan Trichomoniasis ialah Metronidazol (66,67%).

References

1. Bobak, L. 2005. Keperawatan Maternitas, Edisi 4. EGC : Jakarta.
2. Garcia A.L, Madkan V.K, dan Tyring S.K. 2008. Gonorrhea and Other Venereal Disease. Mc Graw Hill : New York.
3. Habif, Thomas P. 2004. Warts, Herpes Simplex, and Other Viral Infections. Edisi ke-empat. Mosby : Philadelphia.
4. Kumalasari, I., dan Andhyantoro, I. 2012. Kesehatan Reproduksi untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta.
5. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta.
6. Muda, F.M, Zees R, Monayo E.R. 2014. Faktor - faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Infeksi Menular Seksual. Universitas Negeri Gorontalo : Gorontalo.
7. Neal, Michael J. 2006. Farmakologi Medis Edisi Kelima. Erlangga : Jakarta.
8. Sukandar, E.Y., dkk. 2008. ISO Farmakoterapi. ISFI : Jakarta.
9. Triono, Aviv., dan Purwoko, Akhmad Edy. 2012. Efektifitas Antibiotik Golongan Sefalosporin dan Kuinolon. Jurnal Mutiara Medika, 12 (1), 6-11.
10. Zubier, F. 2009. Kondiloma Akuminata. Balai Penerbitan FKUI : Jakarta.
Published
2016-11-01
How to Cite
Rahayu, Y. P., Ramadhan, A. M., & Rijai, L. (2016). Kajian Karakteristik dan Pola Pengobatan Pasien Infeksi Menular Seksual di RSUD Aw Sjahranie Samarinda. Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, 4(1), 396-406. https://doi.org/10.25026/mpc.v4i1.211

Most read articles by the same author(s)