Kajian Terapi Asma dan Tingkat Kontrol Asma Berdasarkan Asthma Control Test (ACT)

  • Ana Nur Yasin
  • Risna Agustina
  • Jaka Fadraersada
Keywords: Asma tidak Terkontrol, Budesonid, Formoterol fumarate dihydrate, Metode Prospektif, Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie Samarinda

Abstract

Asma adalah penyakit saluran pernapasan yang ditandai adanya inflamasi, peningkatan reaktivitas terhadap berbagai stimulus, dan sumbatan saluran napas yang bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan yang sesuai. Prioritas pengobatan penyakit asma sejauh ini ditujukan untuk mengontrol gejala agar tidak terjadi serangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya asma berupa riwayat keturunan, riwayat merokok, riwayat terpapar asap rokok dan alergi serta penggunaan terapi kontroler dan tingkat kontrol asma dengan menggunaan kuisioner Asthma Control Test (ACT). Jenis penelitian yang dilakukan yaitu dengan menggunakan metode prospektif dengan pemaparan hasil secara deskriptif. Sampel penelitian ialah pasien dengan usia > 18 tahun dan diagnosis utama asma di Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie Samarinda sebanyak 26 orang. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik berupa jenis kelamin perempuan (57,69%), usia 45-59 tahun (42,30%). Faktor risiko yang mempengaruhi asma berupa riwayat keturunan (53,84%), riwayat merokok (34,63%), riwayat terapar asap rokok (70,07%) dan alergi (57,69%). Penggunaan terapi kontroler symbicort® yang berisi Budesonid dan Formoterol fumarate dihydrate (15,38%) dengan frekuensi penggunan rutin (23,08%). Terapi yang diberikan dari Rumah Sakit yaitu Symbicort® dan N-Asetilsistein (46,16%). Tingkat kontrol asma berdasarkan skor ACT yang memiliki proporsi tertinggi yaitu pasien dengan asma tidak terkontrol sebanyak (84,62%).  

References

[1]. Mafruhah, Okti Ratna., Bagus Syaputra. Chyntia Paradiftha S. 2016. Evaluasi Efektifitas Terapi Pada Pasien Asma di Rumah Sakit Khusus Paru Respira Yogyakarta Daerah UPKPM Kalasan Periode November 2014 – Januari 2015. Jurnal Ilmiah Farmasi 12(2).
[2]. World Health Organization. Who.int. [Online] 2013. A [Cited 2014 Maret 23].
[3]. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Republik Indonesia. 2013. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional.
[4]. Suyono, S., 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 2, Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit FK – UI
[5]. Dumbi, SAN., Saraswati D., Prasetya E. 2013. Faktor Risiko Penyebab Asma Bronkial. Gorontalo; Departement of Public Health.
[6]. Dharmayanti, I Hapsari D., Azhar K. 2015. Asma Pada Anak di Indonesia; Penyebab dan Pencetus Asma. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional.
[7]. Lim, RH., et al. 2008. Sexual Tension In The Airways; The Puzzeling Duality Of Estrogen In Asthma. USA: American Journal Of Respiratory Cell and Molecular Biology.
[8]. Centers for Disease Control and Prevention. National survey of asthma statistics in table and charts. USA: National Centers for Health Statistics; 2008.
[9]. National Heart, Lung, and Blood Institute. Data fact sheet of asthma statistics. USA: National Centers for Health Statistics; 2009.
[10]. WHO Asthma Stats Data Sheet [Online]. [Dikunjungi 8 Januari 2011]; tersedia di : http://www.who.int/topics/asthma_statistics/
[11]. Vrieze A, Postma DS, Kerstjens HA. Perimenstrual asthma: a syndrome without known cause or cure. J Allergy Clin Immunol Nэόrway 2007;112:271-282.
[12]. Herdi. 2011. Gambaran Faktor Pencetus Serangan Asma di Poliklinik Paru dan Bangsal Paru RSU DR.Soedarso Pontianak.
[13]. Oemiarti, Ratih. et al. 2010. Faktor Faktor yang Berhubungan Dengan Penyakit Asma.
[14]. Pratyahara, A. Dayu. 2011. Asma pada Balita. Yogyakarta: Buku Kita.
[15]. Bateman ED, Jithoo A. Asthma and allergy - a global perspective in allergy. Eur J Allergy Clin Immunol. 2007;62(3):213-5.
[16]. Kozlowski, Lynn T., et al., 2001. Cigarettes, Nicotine & Health a Biobehavioral Approach. California: Sage Publications, Inc
[17]. Morkjaroenpong V., Rand CS., Butz AM., Huss K Eggleston P., Maveaux., Bartlett SJ. 2002. Environmental Tobacoo Smoke Ecposure and Nocturnal Symtoms Among Innery-City Childern With Asthma. J Allergy Clin.
[18]. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). 2008. Informasi Obat Nasional Indonesia (IONI). BPOM RI, KOPER POM dan CV SagungSeto: Jakarta.
[19]. Kemenkes. 2008. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. MKRI: Jakarta.
[20]. Beasly B, Holt S., Fabian D., Masoli M. 2002. GINA (Global Initiative For Asthma): Global Strategy For Asthma Management And Prevention. New Zealand: Medical Research Institute Of New Zealand.
[21]. Ilyas M, WiyonoWH., Yunus F. 2010. Correlation Asthma Control Test (ACT) and Spirometry as Toll Of Assesing Of Controlled Asthma. J Respir Indo.
Published
2017-11-08
How to Cite
Yasin, A. N., Agustina, R., & Fadraersada, J. (2017). Kajian Terapi Asma dan Tingkat Kontrol Asma Berdasarkan Asthma Control Test (ACT). Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, 6(1), 1-6. https://doi.org/10.25026/mpc.v6i1.246

Most read articles by the same author(s)

1 2 3 4 5 6 > >>