Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Akar Tumbuhan Merung (Coptosapelta flavescens Korth.) Terhadap Bakteri Streptococcus mutans

  • Nurul Musdalifah Aprilia Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Kefarmasian FARMAKA TROPIS, Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia
  • Wahyu Widayat Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Kefarmasian FARMAKA TROPIS, Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia
  • Adam M Ramadhan Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Kefarmasian FARMAKA TROPIS, Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia
Keywords: Akar merung, Antibakteri, Streptococcus mutans

Abstract

Streptococcus mutans merupakan salah satu bakteri gram positif penyebab utama infeksi pada mulut yaitu karies gigi. Akibat tingginya prevalensi karies pada anak sehingga diperlukan alternatif dan pencarian kandidat senyawa antibakteri baru. Tumbuhan merung (Coptosapelta flavescens Korth.) merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki potensi sebagai antibakteri yang terdapat di Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Secara empiris akar tumbuhan merung dimanfaatkan oleh masyarakat Kutai untuk  mengobati beberapa penyakit infeksi  seperti diare, bisul, dan keputihan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak metanol akar tumbuhan merung terhadap bakteri Streptococcus mutans. Akar tumbuhan merung diekstraksi dengan metode maserasi dengan pelarut metanol. Pengujian antibakteri ekstrak metanol akar tumbuhan merung dilakukan menggunakan metode difusi kertas cakram Kirby-Bauer dengan konsentrasi uji (0.01, 0.02, 0.1, 0.2, 2, 10) mg/disc. Hasil pengujian aktivitas antibakteri menunjukan bahwa ekstrak metanol akar tumbuhan merung memiliki aktivitas antibakteri pada konsentrasi 0.02-10 mg/disc yang ditunjukkan dengan terbentuknya zona bening disekitar kertas cakram. Aktivitas antibakteri ekstrak metanol akar tumbuhan merung dimulai pada konsentrasi 0.02 mg/disc (7.61 mm) dan dengan zona bening terbesar  ditunjukkan pada konsentrasi 10 mg/disc (20.60 mm). Hasil identifikasi golongan metabolit sekunder menunjukkan bahwa ekstrak metanol akar tumbuhan merung terdapat golongan metabolit sekunder flavonoid, fenol, tanin, dan antrakuinon. Senyawa turunan fenolik tersebut telah banyak dilaporkan memiliki aktivitas sebagai antibakteri

References

[1]. Agustina, A., Tjahajani A., dan Auerkari E. 2007. Pengaruh Pasta Gigi Mengandung Xylitol terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans Serotip C In Vitro. J Dent 2007; 14 (3): 204-205.
[2]. Simon, Lisa. 2007. The Role of S. mutans and Oral Ecologi In The Formation of Dental Caries, LethBridge Under Grad. research Jour., Vol. 2
[3]. Sasea, Altriany., B. S. Lampus, dan Aurelia Supit. 2013. Gambaran Status Kebersihan Rongga Mulut dan Status Gingiva Pada Mahasiswa Dengan Gigi Berjejal. Journal e - GIGI (eG), Vol. 1, No. 1, Hlm. 52 -58. Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Univ. Sam Ratulangi: Manado.
[4]. RISKESDAS. 2013. Riset Kesehatan Dasar Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Tahun 2013.
[5]. Hermanda, R., Widayat, W., dan Rijai, L. 2016. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Akar Tumbuhan Merung (Coptosapelta tomentosa) Terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian IV. Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman. Samarinda.
[6]. Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi 4. Penerbit Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
[7]. Harbone, J. B. 1998. Metode Fitokimia. Terjemahan dari Phytochemical Method, oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Sudiro. Penertbit ITB Bandung. Bandung.
[8]. Septyaningsih, D. 2010. Isolasi dan identifikasi komponen utama ekstrak biji buah merah (Pandanus conoideus lamk). Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
[9]. Ditjen POM. 1977. Materia Medika Indonesia Jilid 1. Penerbit Direktoral Jenderal Pengawas Obat Dan Makanan. Jakarta.
[10]. Dyozem, J. P., Hamamoto, H., Ngameni, B., Ngadjui, B. T., dan Sekimizu, K. 2013. Antimicrobial Action Mechanism of Flavonoids from Dorstenia species. Drug Discoveries & Therapeutics, 7(2): 66-72.
[11]. Ajizah A, Thihana, Mirhanuddin. 2007. Potensi ekstrak kayu ulin (Eusideroxylon zwageri T et B) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara in vitro. Jurnal Ilmiah. 4(1): 37-42.
[12]. Jones, G. A., McAllister, T. A., Muir, A. D., dan Cheng, K. J. 1994. Effects of Sainfoin (Onobrychis viciifolia scop.) Condensed Tannins on Growth and Proteolysis by Four Strains of Ruminal Bacteria. Appl. Environ. Microbiol, 60 (4):1374–1378.
[13]. Zhi-hui, Y., Xue-zhi, D., Li-qiu, X., Xiu-quing, X., Sha, X., Shuang, L., dan Xue-mei, L. 2013. Antimicrobial Activity and Mechanism of Total Saponins from Allium chinense. Food Science, 34(15): 75-80.
Published
2017-11-08
How to Cite
Aprilia, N. M., Widayat, W., & Ramadhan, A. M. (2017). Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Akar Tumbuhan Merung (Coptosapelta flavescens Korth.) Terhadap Bakteri Streptococcus mutans. Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, 6(1), 146-154. https://doi.org/10.25026/mpc.v6i1.277