Kajian Kesesuaian Pemilihan Antibiotik Empiris pada Pasien Ulkus Diabetikum Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie Samarinda

  • Melinda Rahmawati
  • Vina Maulidya
  • Adam M. Ramadhan

Abstract

Ulkus diabetikum merupakan salah satu kasus yang terjadi akibat komplikasi dari Diabetes Mellitus Tipe 2 yang ditandai dengan adanya luka terbuka pada bagian kaki. Untuk menangani kasus tersebut dilakukan pemberian antibiotik untuk mengobati infeksi tersebut. Pemilihan antbiotik empiris merupakan salah satu upaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan terapi pada ulkus diabetikum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, pola pengobatan antibiotik empiris, pola resisten dan sensitivitas bakteri terhadap antibiotik, dan ketepatan dari pemilihan antibiotik empiris pada pasien ulkus diabetikum. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pengambilan data secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif pada catatan rekam medis pasien ulkus diabetikum yang dirawat di rawat inap RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda periode Januari-Desember 2017. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien yang memiliki diagnosa ulkus diabetikum berusia dewasa (> 26 tahun). Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa pemilihan antibiotik empiris yang sering digunakan adalah Seftriakson sebagai terapi tunggal sebesar 36% dan Seftriakson-Metronidazol sebagai terapi kombinasi sebesar 50%. Ketepatan pemilihan antibiotik menunjukkan bahwa seftriakson berdasarkan uji sensitivitas bakteri menunjukkan persentase kesesuaian sebesar 38,89% dan Seftriakson+Metronidazol sebesar 48%.

References

[1] Ahmed A. A., Algamdi S. A. Algurashi A., Alzahrani A. M., and Khalid K. A., 2014, Risk Factors for Diabetes Foot Ulceration. Among Patients Attending Primary Health Care Services, The Journal of Diabetic Foot Complications, 6 (2), 40-47.

[2] Akbar T. G, Karimi Jazil, Anggraini Dewi, 2014. Pola Bakteri dan Resistensi Antibiotik pada Ulkus Diabetik Grade Dua di RSUD Arifin Achmad Periode 2012. JOM, Vol. 1 No. 2
[3] Brook I., Wexler H.M. and Goldstein E.J.C., 2013, Antianaerobic Antimicrobials: Spectrum and Susceptibility Testing, American Society for Microbiology, 26 (3), pp.523-539.
[4] Dipiro, JT., 2009. Pharmacotherapy Handbook 7th edition, Mc-Graw Hill, New York
[5] Depkes RI, 2009. Klasifikasi Umur Menurut Kategori. Jakarta: Ditjen Yankes.
[6] Frykberg, R.G., Zgonis, T. Armstrong, D. G., et al, 2006. Diabetic Foot Disorders: AD. G., et al., 2006. Diabetic Foot Disorders: A Clinical Practice Guideline.
[7] Gunawan, Sulistia, 2016. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
[8] Harmita dan Radji, M., 2008. Kepekaan Terhadap Antibiotik. Dalam: Buku Ajar Analisis Hayati, Ed.3. EGC, Jakarta: 1-5
[9] Katzung, B., Susan, B. Masters., & Anthony, J. 2010. Basic and Clinical Pharmacology 10 th Ed. Mc-Graw Hill Companies, USA.
[10] Kementerian Kesehatan RI, 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia: Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik.
[11] Khalique, S., 2014. Evaluation of the Effect of Inadaptable Risk Factors and Social status on Diabetic Foot. International Journal of Endorsing Health Science Research, 2 (2), pp. 78-81.
[12] Leese, G., Nathwani, D. & Matthew Young, 2009. Use of Antibiotics in People with Diabetic Foot Disease: A Consensus Statement. The Diabetic Foot Journal. 12(2), pp. 10
[13] Lipsky B.A., 2004. Medical Treatment of Diabetic Foot Infections. Clinical Infection Disease, 39, 104-14.
[14] Lipsky B.A., Berendt A. R., Comia P.B., Pile J.C., Peters E.J.G. and Armstrong D.G., 2012, 2012 Infectious Disease Society of America Clinical Practice Guideline for The Diagnosis and Treatment of Diabetic Foot Infections, Infectious Disease Society of America Guideline, 132-173.
[15] Mahmudah, R, Soleha, TU dan Ekowati, C. 2013. Identifikasi Methicillin- Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) pada Tenaga Mesdia dan Paramedis di Ruang Intensive Care Unit (ICU) dan ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek. Medical Journal of Lampung University, Vol.2 pp. 71-76
[16] Maskari A. F., Sadig M., 2007. Prevalence of Risk Factor for Diabetic Complications, Biomed Central Family Practice, 8, 59-67.
[17] Ninisita, Sri Hadi, Djoko Wahyono, I Dewa Putu Pramantara S., 2012. Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Infeksi Kaki Diabetik: Studi Kasus Rawat Jalan di Poliklinik Endokrinologi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Jurnal Managemen dan Pelayanan Farmasi Volume 2 Nomor 4.
[18] National Institute for Health and Care Excellent, 2015. Diabetic Foot Problem Prevention and Management, National Institute for Health and Care Excellence, 19.
[19] Noor, S., Rizwan, U. K. & Jamal, A. 2017. Understanding Diabetic Foot infection and Its Management Diabetes & Metabolic Sindrome. Clinical Research & Reviews, 11(2); 149-156.
[20] Radji M., Siti F., Nurgani, A., 2011. Antibiotic Sensitivity Pattern of Bacterial Pathogens in The Intensive Care Unit of Fatmawati Hospital Jakarta. Asian Pac J Trop Biomed, Jakarta 1,1, pp. 39-42.
[21] Waspadji, S. Kaki Diabetes. Dalam: Sudoyo AW, Setyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editor, 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi ke-4. Jakarta: Interna Publishing.
[22] Wells,. B., Dipiro, J., & Terry, L. 2009. Pharmacotherapy Handbook, Seventh Edition, The McGraw-Hill Companies, Inc. New York
Published
2018-12-31
How to Cite
Rahmawati, M., Maulidya, V., & Ramadhan, A. M. (2018). Kajian Kesesuaian Pemilihan Antibiotik Empiris pada Pasien Ulkus Diabetikum Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, 8(1), 119-127. https://doi.org/10.25026/mpc.v8i1.313

Most read articles by the same author(s)

1 2 3 4 5 > >>