Hubungan Ketepatan Pemilihan Antibiotik Empiris dengan Outcome Terapi pada Pasien Sepsis Di Instalasi Rawat Inap Beberapa Rumah Sakit

  • Gita Rizqi Ramita
  • Sabaniah Indjar Gama
  • Adam M. Ramadhan

Abstract

Terapi antibiotik merupakan salah satu komponen penunjang dalam keberhasilan pengobatan sepsis. Salah satu terapi sepsis yaitu menggunakan antibiotik empiris. Antibiotik empiris yang digunakan  harus rasional, adekuat dan tepat untuk menghindari terjadinya resistensi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik pasien, pola pemilihan antibiotik empiris, pola sensitivitas dan resistensi bakteri terhadap antibiotik, ketepatan pemilihan antibiotik empiris, dan hubungan ketepatan pemilihan antibioktik empiris dengan outcome terapi. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan cara pengambilan data secara retrospektif, kemudian dianalisis secara deskriptif, dengan kriteria inklusi adalah diagnosa sepsis, usia dewasa, dirawat inap rumah sakit Abdul Wahab Sjahranie Samarinda dan A.M Parikesit Tenggarong periode Januari-Desember 2017. Hasil penelitian menunjukkan antibiotik empiris yang digunakan adalah Ceftriaxone nilai sensitivitas sebesar 26,67% dan Meropenem nilai sensitivitas sebesar 16,67%. Ketepatan antibiotik berdasarkan uji sensitivitas bakteri menunjukkan persentase ketepatan sebesar 61,90%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa adanya hubungan ketepatan pemilihan antibiotik empiris pada pasien sepsis dengan outcome terapi  (p < 0,05).

References

[1] ASHP Board of Directors, April 21, 1993. ASHP House of Delegates. Developed by the ASHP Council on Professional Affairs.
[2] Dewi, R., 2011. Sepsis Pada Ana : Pola Kuman dan Uji kepekaan. Majalah Kedokteran Indonesia, 61 (3): 101-106.
[3] Fatmah. 2006. Respons Imunitas Yang Rendah Pada Tubuh Manusia Usia Lanjut. Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia. Makara, Kesehatan, Vol. 10, No. 1:47-53.
[4] Glauser MP, Zanetti G, Baumgartner JD, Cohen J. 1991. Septic Shock: Pathogenesis. Lancet, 338: 732-736.
[5] Guntur. 2006, ‘Sepsis’ dalam : SIRS & Sepsis (Imunologi, Diagnosis, Penatalaksanaan), ed., D.A. Prasetyo, Y.S. Sutanto. Sebelas Maret University Press. Surakarta, hal. 1-13.
[6] Herwana E, Yenny, Pudjiaji L, Surjawidjaja J, Murad Lesmana. 2008. Prevalence Of Extended Spectrum Beta-Lactamase In Klebsiella Pneumonia. Jurnal Universa Medicina.
[7] Hidayati, Helmi Arifin dan Raveinal. 2016. Study of Antibiotic Using on Septic Patients with Kidney Disorder. Fakultas Farmasi, Universitas Andalas. Jurnal Sains Farmasi & Klinis , 2(2), 129-137.
[8] Hotchkiss RS, Swanson PE, Freeman BD, Tin-sley KW, Cobb JP, Matuschak GM. Apoptotic cell death in patients with sepsis, shock, and multiple organ dysfunction. Crit Care Med. 1999; 27(7):1230-51.
[9] Katzung G. Bertram. 2008. Farmakologi Dasar dan Klinik (Edisi 8). Alih bahasa oleh Bagian Farmakologi Fak. Kedokteran Univ. Airlangga. Salemba Medika. Jakarta.
[10] Kemenkes RI. 2011. Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik. Jakarta.
[11] Kusumadewi, S., Anis, F. dan Endang, B., 2011. Peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Bidang Obat dan Pengobatan dalam Mendukung Perlindungan Pasien. Halaman 40-44. Graha Ilmu. Yogyakarta.
[12] Notoatmodjo, S. 2007. Pendidikan dan Perilaku kesehatan.Cetakan 2. PT. Rineka Cipta. Jakarta.
[13] Rhomberg PR, and Jones RN. 2009. Summary trends for the Meropenem Yearly Susceptibility Test Information Collection Program: A 10-year experience in the United States (1999–2008). Diagn Microbiol Infect Dis.65(4):414–26. doi: 10.1016/j.diagm icrobio.2009.08.020.
[14] Sakr Y, Elia C, Mascia L, Barberis B, Cardellino S, Livigni S, Fiore G, Filippini C, Ranieri VM. 2013. The Influence of Gender on The Epidemiology Of And Outcome From Severe Sepsis. Critical Care.17(R50).
[15] Starr M, and Saiyo H. 2014. Sepsis In Old Ages: Review Of Human and Animal Studies.
[16] Suharto. 2000. Tatalaksana Syok Septik dalam : Update on Shock. Pertemuan Ilmiah Terpadu I, ed.Suharto, A. Aadi, N.M. Rehatta, T. Ontoseno. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya, hal. 173-186.
[17] Tiflah. 2006. Bakteremia pada Neonatus: Hubungan Pola Kuman dan Kepekaan terhadap Antibiotik Inisial serta Faktor Risikonya di Bangsal Bayi Risiko Tinggi (BBRT) RS. DR. Kariadi Tahun 2004. Skripsi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
[18] Tony Yu, Edgar Black, Kenneth E Sands, J Sanford Schwartz, Patricia L Hibberd, Paul S Graman, Paul N Lanken, Katherine L Kahn, David R Snydman, Jeffrey Parsonnet, Richard Moore, Richard Platt and David W Bates. 2003. Severesepsis: variation in resourceand therapeutic modality use among academic centers.Critical Care 7(3):R24- R34
[19] Vera, Evacuasinya Endang, dan Richardo Yuvens. 2011. Karakteristik Pasien Usia Lanjut di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit Immanuel Bandung. Jurnal JKM.10:110-119.
Published
2018-12-31
How to Cite
Ramita, G. R., Gama, S. I., & Ramadhan, A. M. (2018). Hubungan Ketepatan Pemilihan Antibiotik Empiris dengan Outcome Terapi pada Pasien Sepsis Di Instalasi Rawat Inap Beberapa Rumah Sakit. Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, 8(1), 220-228. https://doi.org/10.25026/mpc.v8i1.327

Most read articles by the same author(s)

1 2 3 4 5 6 > >>