Pola Penggunaan Obat Antikonvulsan pada Pasien Gangguan Kejiwaan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Atma Husada Mahakam Samarinda

  • Meilanie Dwi Anggraeni Laboratorium penelitian dan pengembangan fakultas farmasi universitas mulawarman
  • Risna Agustina
  • Niken Indriyanti

Abstract

ABSTRAK

Antikonvulsan adalah obat yang dikembangkan untuk menghambat penyebaran kejang di otak dengan menekan penembakan neuron yang cepat dan berlebihan. Biasanya, antikonvulsan digunakan oleh pasien gangguan jiwa yang mengalami kejang, sulit tidur, dan rasa cemas yang berlebihan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola penggunaan obat antikonvulsan pada pasien gangguan jiwa dan mengetahui karakteristik pasien yang menerima terapi antikonvulsan periode Januari-Desember 2018. Jenis penelitian ini adalah non-eksperimental dengan metode retrospektif dari catatan rekam medis 52 pasien rawat jalan dan rawat inap dengan diagnosa penyakit gangguan kejiwaan yaitu dimensia, depresi, bipolar, dan skizofrenia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pasien dengan jenis kelamin perempuan (65,38%), usia 26-35 tahun (25%), dan tidak bekerja (78,84%) lebih rentan terkena gangguan kejiwaan. Sedangkan pola penggunaan obat antikonvulsan yang digunakan pada Rumah Sakit Jiwa Daerah Atma Husada Mahakam Samarinda adalah benzodiazepine (84,61%), obat asam valproate (5,76%), dan hidantoin (1,92%).

References

American Psychiatric Association. 2013. Diagnostic And Statistical Manual of Mental Disorder Edition “DSM-5”. Washinton DC: American Psychiatric Publishing
Balitbang Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta: Balitbang Kemenkes RI.
Davico, C., Canavese, C., Vittorini, R., Gandione, M., & Vitiello, B. (2018). Anticonvulsants for Psychiatric Disorders in Children and Adolescents: A Systematic Review of Their Efficacy. Frontiers in Psychiatry, 9. doi:10.3389/fpsyt.2018.00270

Dezsi, G., Ozturk, E., Stanic, D., Powell, K. L., Blumenfeld, H., O’Brien, T. J., & Jones, N. C. (2013). Ethosuximide reduces epileptogenesis and behavioralcomorbidity in the GAERS model of genetic generalized epilepsy. Epilepsia, 54(4), 635–643. doi:10.1111/epi.12118
Kurniawan yudi dan Sulistyarini indahria.2016.Komunitas SEHATI (Sehat Jiwa dan Hati) Sebagai Intervensi Kesehatan Mental Berbasis Masyarakat. Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental Vol. 1(2), 112-124 doi: 10.20473/JPKM.v1i22016.112-124
Maslim, Rusdi. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III dan DSM-V. Cetakan 2 – Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya. Jakarta: PT Nuh Jaya.
Morales-Plaza, C. D., & Machado-Alba, J. E. (2017). Anticonvulsant prescription patterns in patients covered by the Colombian Health System. Neurología (English Edition), 32(1), 6–14. doi:10.1016/j.nrleng.2014.09.009
S. McManus, P. Bebbington, R. Jenkins, & T. Brugha (Eds.), Mental health and wellbeing in England: Adult Psychiatric Morbidity Survey 2014. Leeds: NHS Digital.

Wahyudi agung dan febrina arulita ika.2016. FAKTOR RESIKO TERJADINYA SKIZOFRENIA(Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Pati II). Public Health Perspective Journal Vol 1, No 1
Walker,Roger BPharm, PhD, FRPharmS, FFPH, Cate Whittlesea BSc, MSc, PhD, MRPharmS. 2012. Clinical Pharmacy and Therapeutics 5rd Edition, Churchill Livingstone, London.
Published
2019-10-31
How to Cite
Dwi Anggraeni, M., Agustina, R., & Indriyanti, N. (2019). Pola Penggunaan Obat Antikonvulsan pada Pasien Gangguan Kejiwaan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Atma Husada Mahakam Samarinda. Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, 10(1), 48-51. https://doi.org/10.25026/mpc.v10i1.345

Most read articles by the same author(s)

<< < 1 2 3 > >>