Pola Penggunaan Antibiotik Penyakit Pneumonia Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie

  • Fitri Ayu Wahyuni
  • Victoria Yulita Fitriani
  • Muhammad Amir Masruhim
Keywords: Pneumonia, antibiotik, anak, pola penggunaan

Abstract

Pneumonia adalah penyakit batuk pilek disertai nafas sesak atau nafas cepat. Penyakit ini sering menyerang anak balita, namun juga dapat ditemukan pada orang dewasa dan pada orang usia lanjut. Pneumonia paling sering diakibatkan oleh infeksi bakteri, virus atau mikoplasma. Pemilihan dan penggunaan terapi antibiotika yang tepat dan rasional akan menentukan keberhasilan pengobatan. Selain itu tidak tertutup kemungkinan penggunaan antibiotik yang lain dapat meningkatkan peluang terjadinya Drug Related Problems (DRP). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola penggunaan antibiotik penyakit pneumonia pasien anak di instalasi rawat inap Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie Kota Samarinda. Penelitian bersifat deskriptif, pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada pasien pneumonia yang memenuhi kriteria inklusi. Data diambil pada periode bulan Januari-Desember 2014 melalui rekam medik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien pneumonia paling banyak diderita oleh laki-laki sebanyak 52 kasus (63,42%) dan perempuan sebanyak 30 kasus (36,58%), berdasarkan umur yang paling banyak berusia 1 – 12 bulan sebanyak 49 pasien (59,76%). Penggunaan antibiotik berdasarkan pemilihan golongan yang paling banyak digunakan adalah golongan sefalosporin generasi III sebanyak 41 pasien (39,42%). Golongan penisilin sebanyak 22 pasien (21,15%). Kombinasi antibiotik aminoglikosida dengan sefalosporin generasi III sebanyak sebanyak 11 pasien (13,41%) dan kombinasi antibiotik penisilin dengan aminoglikosida sebanyak 11 pasien (13,41%). Penggunaan antibiotik berdasarkan jenis obat yang paling banyak digunakan adalah sefotaksim sebanyak 31 pasien (41,9%) dan ampisilin sebanyak 14 pasien (18,92%). Sefiksim sebanyak 10 pasien (13,51%) dan gentamisin sebanyak 10 pasien (13,51%). Kombinasi antibiotik sefotaksim dengan gentamisin sebanyak 11 pasien (13,41%) dan kombinasi antibiotik ampisilin dengan gentamisin sebanyak 11 pasien (13,41%).

References

1. DEPKES RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDA 2013): Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Tahun 2013: Jakarta.
2. Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia pada Anak,
Orang Dewasa, Usia Lanjut, Pneumonia atipik & Pneumonia Atypik Mycobacterium Edisi 1. Pustaka Obor Populer. Jakarta
3. Pingkan C, Heedy Tjirosantoso, Paulina V.Y. Yamlean. 2014. Evaluasi
Kerasionalan Penggunaan Antibiotik Pada Pengobatan Pneumonia Anak Di Instalasi Rawat Inap RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari-Desember 2013. PHARMACON Vol. 3 No 3.
4. Sudoyono A, Setiyohayadi, Alwi, Simadibrata K, Setiati. 2009. Ilmu Penyakit
Dalam jilid III Edisi V. Interna Publishing. Jakarta.
5. Sugihartono.2012. Analisis Faktor Risiko Kejadian Pneumonia Pada Balita
Di Wilayah Kerja Puskesmas Sidorejo Kota Pagar Alam.Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol. 11 No. 1.
6. Uekert, S.J. G. Akan. M. Evans. Z.Li. K. Roberg, C. Tisler, D. Dasilva, E.
Anderson, R. Gangnon, D. B. Allen. 2006. Sex-Related Differences in Immune Development The Expression of Atopy in Early Chilhood. J Allergy Clin Immunol 118: 6: 1375-1381.
7. WHO. 2009. Pedoman Pelayanan Kesehatan anak Di Rumah Sakit. WHO press. Jakarta.
Published
2015-11-27
How to Cite
Wahyuni, F. A., Fitriani, V. Y., & Masruhim, M. A. (2015). Pola Penggunaan Antibiotik Penyakit Pneumonia Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie. Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, 2(1), 95-100. https://doi.org/10.25026/mpc.v2i1.46

Most read articles by the same author(s)

1 2 3 4 5 > >>